Arnata Pakangraras# Kota Ini Hanya Cahaya

Arnata Pakangraras
by Arnata Pakangraras — April 21, 2017 in Puisi

Tatkala.co
KOTA INI HANYA CAHAYA Sesungguhnya tidak ada yang nyenyak di kota ini aku mengeram bara malam ke malam di atas kasur yang juga bara berbincang silsilah bara tak ada keindahan Wolfgang Amadeus Mozart tak ada liukan saxophone Kenny G atau Dave Koz bahkan gemericik air mancur di bundaran Hotel Indonesia adalah genderang perang di jantungku Gedung jangkung beranak pinak tubuhnya kaca melewati lift panjang sembunyilah mereka bersama gadis wangi air api aliri kerongkongan mungil menghapus asal usul Di langit Monas pun layang layang menikung tajam angin bulan ini kehilangan irama berteduh di bawahnya hanya menambah degup apalagi mesti kutunggu kalau gempa akan datang (benarkah gempa di kedalaman agama sanggup ciptakan tsunami hingga ke teras lingga ini) Kota ini hanya cahaya kumpulan kunang kunang lupa jalan pulang Apa yang kau cari sesubuh ini embun sudah lama punah Dan rumput rumput hanyalah daur ulang kawat berduri Jangan datang lagi aku pun lelah menjala angin (Jakarta, Februari 2017) SAJAK SITI ROKAYAH Malam pendiam lelehkan sepiring dodol Garut di meja makan yang sunyi apel apel keriput menamatkan gurau dan vertigo ini sontak benturkan kepalaku ke tiang tiang jolopong sungguh, getir memikirkan senar kecapi putus apalagi seruling menutup lubang sendiri dengan apa mesti kutampung gelisah saat senyum tak terbaca "anakku menjambak rambutku !" kepada siapa kukabarkan bila angin memutar arah : para psikolog para pendidik para pemuka agama ? ah, mereka sibuk di televisi atau kepada suamiku yang lelap di rindang kamboja tembuslah ruang waktu oh suamiku pamitlah sebentar ke penjaga gerbang kita duduk di bangku panjang ada secangkir kopi hitam asapnya memutar sepotong singkong kesukaanmu mari dongengkan kembali anak kita tentang sehelai rambut yang kugantung d irumah paraji berlimpah wangi susu atau asin keringat ayahnya "anakku merebut tongkat usiaku !" jumawamu bakar kering dinding rahim dimana pernah kau singgahi mengepongpong mengisap tuntas sarinya lalu seorang ibu kuyup bersajak menurunkan malaikat memetik cahaya bulan bahkan halilintar jumawamu pematah bingkai pengutuk kenangan untuk apa menatap dari balik pasal yang kau pungut di lorong lorong kota di sini ludahku pahit "denyut ini melemah, kau tahu ?" bila kalender sudah tak lagi sisipkan hari baik biar kujadikan kursi roda ini ruang tunggu hingga langit memberi isyarat keberangkatan mungkin mereka tuliskan kembali tanggal kelahiranku di sepotong kayu tintanya kelabu "akulah Siti Rokayah kau boleh memanggilku Amih". (Jakarta April 2017) MEMANDANG WARNA Memandangmu di rindang beringin tua memandangmu di rindang pohon jiwa berikan nafas segarmu agar layang layang mekar bersisian bianglala dan nikmati lagi jingkrak anak anak tuntaskan keindahan di sisa hari sebelum negara asam garami kepalanya seikat balon terlepas langit melambai sehingga senja bergurau, wajahmu tembaga semestinya kau tahu kumuliakan warna sebab langit bumi adalah bentukan warna sejak Awal (kekal warna di rindangnya sebelum kau ingkari pucuknya) saat seikat balon pecah diudara bukan kesedihan lagi yang kuhitung tapi serakan warna rebah berjatuhan dan lalu lalang orang bertelapak besi membenamkannya : mereka penjaja dogma dari kerajaan kelam angka angka ditangannya sejatinya kode perang bahkan pemusnah ! entah atas nama siapa kali ini dadaku gemetar memandang warna apalagi anak anak yang kehilangan menggigil di sudut lapangan. (Jakarta April 2017)
Tag: Puisi
Avatar

Arnata Pakangraras

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More