Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
Jalan setapak menuju puncak[/caption]
Hijau Pinus Berlatar Danau Batur
Selama perjalanan ke puncak, hutan lebat mendominasi pandangan. Jalan terus menanjak, kadang berpasir, kadang bertanah. Aku sendiri tak masalah dengan kondisi itu, yang jelas, kondisi hutan yang masih lebat dan bau paku-pakuan sudah cukup membuatku senang. Berbeda dengan mendaki Batur, yang didominasi jalan berbatu.
[caption id="attachment_2880" align="aligncenter" width="609"]
Pinus berderai sampai jauh[/caption]
Setelah beberapa jam mendaki, ada beberapa point yang membuatku takjub. Pertama, deretan pinus berlatar Danau Batur. Warna biru toska Danau Batur sangat kontras dengan hijau pinus. Dari kejauhan, tampak Gunung Batur begitu kering dan kerdil (sayang, aku tak punya fotonya).
Point kedua yaitu di sebuah jalan ‘bonus’ (jalan datar) dengan pemandangan lembah dan Danau Batur yang kupikir sangat heavenly. Bayangkan saja, lembah dengan padang hijau yang bergoyang tertiup angin, sementara Danau Batur terlihat misterius dengan riak yang berpendar.
Point ketiga, di tengah perjalanan menuju puncak, ada sebuah pura dengan pemandangan Danau Batur yang luas, tanpa pepohonan yang menghalangi pandangan. Menurutku, titik ini sangat spesial karena aku bisa merasakan sensasi bersembahyang dengan khusyuk ditemani suara angin yang menenangkan.
Singkat cerita, setelah 4 – 5 jam mendaki, kami sampai di puncak. Hari sudah menjelang malam. Ada sebuah pura kuno lengkap dengan gerbang dan pelinggihnya. Temperatur udara makin menusuk, angin pun menderu bagai pesawat yang terbang rendah.
Pemandangan di belakang pura sangat bagus, aku bisa melihat puncak Batur di seberang danau dan kerlap-kerlip lampu nelayan di Danau Batur. Aku dan teman-teman bersembahyang di pura itu, memohon ijin dan keselamatan selama berada di Gunung Abang.
[caption id="attachment_2881" align="aligncenter" width="668"]
Indahnya Danau Batur dipandang dari puncak Abang[/caption]
Deru Angin Hingga Dini Hari
Bagiku, puncak Gunung Abang tak terlalu istimewa. Tempat camp di jaba pura kupikir sangat tidak nyaman. Kontur tanah tidak ada ratanya sama sekali. Aku harus tidur dengan kemiringan tanah, kadang tubuhku juga merosot. Tapi bermalam di Puncak Abang menurutku adalah pengalaman yang mengesankan, karena sepanjang malam tenda bergoyang terus ditiup angin yang sangat keras, menderu-deru, mirip orang yang berteriak.
[caption id="attachment_2882" align="aligncenter" width="679"]
Camp di jaba Pura dengan angin yang terus menderu[/caption]
Terbayang kan, bagaimana seramnya. Hehe. Angin ini terus menderu hingga dini hari, bahkan hingga matahari muncul keesokan harinya. Aku tak pernah bermalam di tempat dengan kondisi angin yang demikian, sehingga pengalamanku di Abang sangat eksepsional.
Pagi harinya setelah sarapan, aku dan kawan-kawan menuju ke beberapa titik gunung untuk melihat pemandangan baru. Aku berjalanan menuruni jalan setapak membelah hutan pinus dan semak-semak berbunga di depan pura. Tak jauh dari pura, ada pemandangan lembah yang sangat menakjubkan. Laut juga terlihat. Entah Bali bagian manalah itu, aku tak tahu. Tapi titik ini sangat menakjubkan.
Sekira pukul 10, kami turun. Perjalanan turun terasa sangat mudah, namun sayang, temanku Iwan sempat terkilir. Untung dia bisa melanjutkan perjalanan turun. Yang jelas, kami pulang dengan pengalaman yang luar biasa dan bergiga-giga gambar yang siap dibagikan di media sosial. Hehe. (T)
[caption id="attachment_2883" align="alignnone" width="669"]
Bendera Merah Putih di puncak Abang[/caption]
SEBENTAR lagi akan dilangsungkan lomba “Menyanyikan Puisi” oleh Komunitas Kertas Budaya di Rompyok Kopi, Jembrana, Bali. Lomba yang digelar dari tanggal 3-4 Februari 2017 ini akan...
HARAP-HARAP cemas, mungkin itu yang sedang dirasakan sekitar 1.200 pelamar yang ikut tes untuk dikontrak jadi guru kelas dan guru penjas di sekolah dasar di Kabupaten Karangasem....
SOAL esek-esek masuk dalam dunia politik itu biasa. Bahkan ada yang nyeletuk, selain sulit pisah dengan nafsu kekuasaan, dunia politik susah juga bercerai dengan nafsu seks. Celet...
GUNUNG di Bali selalu menarik dijelajahi. Beberapa gunung di pulau ini seperti Batur dan Agung memang sudah popular di kalangan para pendaki. Bahkan Batur sudah masuk kategori main...
Jean-Marie Domenach, seorang penulis Prancis yang nasionalis dan progresif, di tahun 1990 menerbitkan bukunya berjudul Europe: Le Delfi Culturel. Buku ini khusus mendiskusikan masa...
Judul : Bob Dylan All The Song The Story Behind Every Track Penulis : Philippe Margotin & Jean Michel Guesdon Penerbit : Black Dog & Leventhal Tahun...
DEBAT tahap pertama pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati Buleleng digelar Senin, 30 Januari 2017, di Hotel Melka, Lovina, Singaraja. Debat itu disiarkan langsung sejumlah ra...
Cerpen: Agus Wiratama AKU adalah lembaran-lembaran kertas buram. Warnaku tak lagi putih seperti kertas-kertas yang selalu disentuh tangan-tangan penuh semangat mahasiswa atau guru-...
SUNGGUH sulit membayangkan kehidupan tanpa humor. Namun anehnya, saya pikir lebih sulit lagi membayangkan humor dapat hidup dalam puisi. Kesan ‘angker’ bahwa puisi selalu anggun da...
SAYA warga keturunan. Keturunan Tionghoa sekaligus keturunan Bali. Di tubuh saya mengalir darah Tionghoa dari leluhur Tionghoa, dan darah Bali dari ibu kandung saya. Sebagai warga...