Mengapa “Passion” Kita Dibunuh? Siapa Pembunuhnya?
APA yang lebih menyedihkan dari kehilangan nyawa? Matinya passion. Matinya gairah hidup yang mengantarkan kita pada visi besar dalam menjalani hidup. Passion bagai kompas yang menu...
Jalan setapak menuju puncak[/caption]
Hijau Pinus Berlatar Danau Batur
Selama perjalanan ke puncak, hutan lebat mendominasi pandangan. Jalan terus menanjak, kadang berpasir, kadang bertanah. Aku sendiri tak masalah dengan kondisi itu, yang jelas, kondisi hutan yang masih lebat dan bau paku-pakuan sudah cukup membuatku senang. Berbeda dengan mendaki Batur, yang didominasi jalan berbatu.
[caption id="attachment_2880" align="aligncenter" width="609"]
Pinus berderai sampai jauh[/caption]
Setelah beberapa jam mendaki, ada beberapa point yang membuatku takjub. Pertama, deretan pinus berlatar Danau Batur. Warna biru toska Danau Batur sangat kontras dengan hijau pinus. Dari kejauhan, tampak Gunung Batur begitu kering dan kerdil (sayang, aku tak punya fotonya).
Point kedua yaitu di sebuah jalan ‘bonus’ (jalan datar) dengan pemandangan lembah dan Danau Batur yang kupikir sangat heavenly. Bayangkan saja, lembah dengan padang hijau yang bergoyang tertiup angin, sementara Danau Batur terlihat misterius dengan riak yang berpendar.
Point ketiga, di tengah perjalanan menuju puncak, ada sebuah pura dengan pemandangan Danau Batur yang luas, tanpa pepohonan yang menghalangi pandangan. Menurutku, titik ini sangat spesial karena aku bisa merasakan sensasi bersembahyang dengan khusyuk ditemani suara angin yang menenangkan.
Singkat cerita, setelah 4 – 5 jam mendaki, kami sampai di puncak. Hari sudah menjelang malam. Ada sebuah pura kuno lengkap dengan gerbang dan pelinggihnya. Temperatur udara makin menusuk, angin pun menderu bagai pesawat yang terbang rendah.
Pemandangan di belakang pura sangat bagus, aku bisa melihat puncak Batur di seberang danau dan kerlap-kerlip lampu nelayan di Danau Batur. Aku dan teman-teman bersembahyang di pura itu, memohon ijin dan keselamatan selama berada di Gunung Abang.
[caption id="attachment_2881" align="aligncenter" width="668"]
Indahnya Danau Batur dipandang dari puncak Abang[/caption]
Deru Angin Hingga Dini Hari
Bagiku, puncak Gunung Abang tak terlalu istimewa. Tempat camp di jaba pura kupikir sangat tidak nyaman. Kontur tanah tidak ada ratanya sama sekali. Aku harus tidur dengan kemiringan tanah, kadang tubuhku juga merosot. Tapi bermalam di Puncak Abang menurutku adalah pengalaman yang mengesankan, karena sepanjang malam tenda bergoyang terus ditiup angin yang sangat keras, menderu-deru, mirip orang yang berteriak.
[caption id="attachment_2882" align="aligncenter" width="679"]
Camp di jaba Pura dengan angin yang terus menderu[/caption]
Terbayang kan, bagaimana seramnya. Hehe. Angin ini terus menderu hingga dini hari, bahkan hingga matahari muncul keesokan harinya. Aku tak pernah bermalam di tempat dengan kondisi angin yang demikian, sehingga pengalamanku di Abang sangat eksepsional.
Pagi harinya setelah sarapan, aku dan kawan-kawan menuju ke beberapa titik gunung untuk melihat pemandangan baru. Aku berjalanan menuruni jalan setapak membelah hutan pinus dan semak-semak berbunga di depan pura. Tak jauh dari pura, ada pemandangan lembah yang sangat menakjubkan. Laut juga terlihat. Entah Bali bagian manalah itu, aku tak tahu. Tapi titik ini sangat menakjubkan.
Sekira pukul 10, kami turun. Perjalanan turun terasa sangat mudah, namun sayang, temanku Iwan sempat terkilir. Untung dia bisa melanjutkan perjalanan turun. Yang jelas, kami pulang dengan pengalaman yang luar biasa dan bergiga-giga gambar yang siap dibagikan di media sosial. Hehe. (T)
[caption id="attachment_2883" align="alignnone" width="669"]
Bendera Merah Putih di puncak Abang[/caption]
APA yang lebih menyedihkan dari kehilangan nyawa? Matinya passion. Matinya gairah hidup yang mengantarkan kita pada visi besar dalam menjalani hidup. Passion bagai kompas yang menu...
SI laki-laki sibuk membatu istrinya yang sedang hamil memilih-milih pakaian bayi di sebuah toko pakaian bayi. Mereka memilih pakaian-pakaian yang warnanya cerah. Yang membuat penas...
“I wish I could write as misterious as a cat” (Aku berhasrat mampu menulis semisterius seekor kucing) Edgar Allan Poe, cerpenis, dramawan, penyair Amerika (1809-1849) ARTA Bangu...
MESKI di beberapa daerah hujan sudah reda dan hari mulai panas, namun di sejumlah daerah lain hujan tampaknya belum sepenuhnya berhenti. Apalagi, ini memang masih musim hujan. Yang...
ALKISAH pada zaman bunga-bunga masih saling berbicara, diadakan perjamuan yang mengundang seluruh bunga. Bunga-bunga datang ditemani pokok, ranting, dan daun-daun. Bunga-bunga berd...
SUDAH tahu naskah lontar? Apakah sudah tahu, jika ketemu naskah lontar, harus dibagaimanakan? Di-tenget-kan? Tidak boleh dipelajari, tidak boleh dibuka, karena jika dibuka kita bis...
ORANG Indonesia, khususnya para penghuni dunia maya, memang cerewetnya minta ampun. Segala hal dikomentari dengan kemampuan analisis seadanya. Kalau disuruh menganalisis lebih dala...
KETIKA tangan dan kakiku lumpuh dan tubuhku tak mampu lagi melontarkan seluruh kobaran batin yang bergelora di kepala, aku menatap ke langit yang tiba-tiba berbicara: anakku jangan...
--- Catatan Harian Sugi Lanus 5 Maret 2017 MENGAKU orang Bali? Masihkah kualitas kehidupan orang Bali bermutu? Persoalan kualitas kehidupan manusia dan dan 'kadar kebalian' kita...
Cerpen: Satia Guna SORE ini kami ada janji untuk bermain sepak bola kampung. Bermain di lapangan yang dilingkari pohon bambu, cukup sejuk dan rindang untuk bermain sepak bola denga...