Ngamen di Sela Senyum Elen Titania
NAMAKU Nando. Malam kembali hadir dengan suguhan bintang di langit menghiasi perjalanan hariku, kali ini aku menikmati masa liburku setelah sekian penat dan lelahku seusai...
Jalan setapak menuju puncak[/caption]
Hijau Pinus Berlatar Danau Batur
Selama perjalanan ke puncak, hutan lebat mendominasi pandangan. Jalan terus menanjak, kadang berpasir, kadang bertanah. Aku sendiri tak masalah dengan kondisi itu, yang jelas, kondisi hutan yang masih lebat dan bau paku-pakuan sudah cukup membuatku senang. Berbeda dengan mendaki Batur, yang didominasi jalan berbatu.
[caption id="attachment_2880" align="aligncenter" width="609"]
Pinus berderai sampai jauh[/caption]
Setelah beberapa jam mendaki, ada beberapa point yang membuatku takjub. Pertama, deretan pinus berlatar Danau Batur. Warna biru toska Danau Batur sangat kontras dengan hijau pinus. Dari kejauhan, tampak Gunung Batur begitu kering dan kerdil (sayang, aku tak punya fotonya).
Point kedua yaitu di sebuah jalan ‘bonus’ (jalan datar) dengan pemandangan lembah dan Danau Batur yang kupikir sangat heavenly. Bayangkan saja, lembah dengan padang hijau yang bergoyang tertiup angin, sementara Danau Batur terlihat misterius dengan riak yang berpendar.
Point ketiga, di tengah perjalanan menuju puncak, ada sebuah pura dengan pemandangan Danau Batur yang luas, tanpa pepohonan yang menghalangi pandangan. Menurutku, titik ini sangat spesial karena aku bisa merasakan sensasi bersembahyang dengan khusyuk ditemani suara angin yang menenangkan.
Singkat cerita, setelah 4 – 5 jam mendaki, kami sampai di puncak. Hari sudah menjelang malam. Ada sebuah pura kuno lengkap dengan gerbang dan pelinggihnya. Temperatur udara makin menusuk, angin pun menderu bagai pesawat yang terbang rendah.
Pemandangan di belakang pura sangat bagus, aku bisa melihat puncak Batur di seberang danau dan kerlap-kerlip lampu nelayan di Danau Batur. Aku dan teman-teman bersembahyang di pura itu, memohon ijin dan keselamatan selama berada di Gunung Abang.
[caption id="attachment_2881" align="aligncenter" width="668"]
Indahnya Danau Batur dipandang dari puncak Abang[/caption]
Deru Angin Hingga Dini Hari
Bagiku, puncak Gunung Abang tak terlalu istimewa. Tempat camp di jaba pura kupikir sangat tidak nyaman. Kontur tanah tidak ada ratanya sama sekali. Aku harus tidur dengan kemiringan tanah, kadang tubuhku juga merosot. Tapi bermalam di Puncak Abang menurutku adalah pengalaman yang mengesankan, karena sepanjang malam tenda bergoyang terus ditiup angin yang sangat keras, menderu-deru, mirip orang yang berteriak.
[caption id="attachment_2882" align="aligncenter" width="679"]
Camp di jaba Pura dengan angin yang terus menderu[/caption]
Terbayang kan, bagaimana seramnya. Hehe. Angin ini terus menderu hingga dini hari, bahkan hingga matahari muncul keesokan harinya. Aku tak pernah bermalam di tempat dengan kondisi angin yang demikian, sehingga pengalamanku di Abang sangat eksepsional.
Pagi harinya setelah sarapan, aku dan kawan-kawan menuju ke beberapa titik gunung untuk melihat pemandangan baru. Aku berjalanan menuruni jalan setapak membelah hutan pinus dan semak-semak berbunga di depan pura. Tak jauh dari pura, ada pemandangan lembah yang sangat menakjubkan. Laut juga terlihat. Entah Bali bagian manalah itu, aku tak tahu. Tapi titik ini sangat menakjubkan.
Sekira pukul 10, kami turun. Perjalanan turun terasa sangat mudah, namun sayang, temanku Iwan sempat terkilir. Untung dia bisa melanjutkan perjalanan turun. Yang jelas, kami pulang dengan pengalaman yang luar biasa dan bergiga-giga gambar yang siap dibagikan di media sosial. Hehe. (T)
[caption id="attachment_2883" align="alignnone" width="669"]
Bendera Merah Putih di puncak Abang[/caption]
NAMAKU Nando. Malam kembali hadir dengan suguhan bintang di langit menghiasi perjalanan hariku, kali ini aku menikmati masa liburku setelah sekian penat dan lelahku seusai...
SIANG tadi. Setelah pulang kuliah, Ainul, seorang mahasiswa tingkat I, mengajak saya untuk meminta keterangan kepada kios counter hp, kenapa kartu perdana yang baru saja di...
SEMESTER 7 itu adalah masa-masa tua bagi mahasiswa dan menakutkan. Benarkah? Semester 7 adalah semester tua. Jika semester 7 dikatakan tua, maka semester 1 dikatakan semes...
PADA namanya melekat unsur Bali asli, tapi ada juga unsur nama kekinian yang diserap dari unsur luar Bali. I Made Juio Saputra. Bisa ditebak ia orang Bali dari zaman agak n...
DARI dalam gelap, Cok Sawitri selaku sutradara memberi aba-aba, "Action!". Lalu, sinar lampu yang ditata Pandet Brewok mulai merayap, membuka apa yang dikurung penonton di...
SUATU hari, adik sepupu saya yang sekarang menginjak kelas 6 SD bertanya ketika saya memutar lagu “Kupu-kupu yang Lucu” dilanjutkan “Aku Seorang Kapiten”. “Ngapain sih nyi...
DI pinggir jalan, beberapa turis tampak menikmati pemadangan sawah nun jauh di seberang lembah. Sesekali sibuk mengarahkan kamera, dan mengabadikanya. Tak berapa lama merek...
BAND Nosstress akan bersuara di Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) tahun 2017 yang kembali dilaksanakan BaleBengong, portal jurnalisme warga di Bali bersama 11 media jaringan...
APA sih yang dimaksud dengan mahasiswa instan? Setahu saya kata instan itu biasa berkaitan dengan makanan dan minuman. Tapi ini berbicara tentang mahasiswa. Sebagai pembuk...
SEDIH melihat situasi yang kadang terasa agak-agak genting di tengah carut-marut wacana-wacana kebhinekaan di negeri tercinta. Mungkin Putra Sang Fajar meneteskan air mata...