Warih Wisatsana# Tiananmen, Puisi Oktober untuk Tilem, Pujian Bagi Tanganmu

Warih Wisatsana
by Warih Wisatsana — April 08, 2017 in Puisi

Tatkala.co
PUJIAN BAGI TANGANMU Tanganmu seperti senja hilang cahaya tanganmu seperti dua bayang bersilang di petang yang lengang Setiap kali kata punya goa dan jejak rahasia Tanganmu menuliskannya, menulisnya sambil mengenang aku Laki-laki sia-sia yang datang padamu di usianya yang hampa Tanganmu seperti gerimis yang ingin menghapus tangis yang ingin mengusap pilu langit biru Tanganmu seperti mata si mati di pagi hari yang menembus hutan bayang yang menggemakan gaung murung di dinding-dinding, di puing-puing kota masa tua ibumu Aku laki-laki yang membaca semua sajakmu, mendatangimu mengigaukan tangan yang lebih lembut dari maut mengigaukan tangan yang lebih lengang dari petang Aku laki-laki yang sesat di baris pertama, tak percaya sungguh tak percaya, kenapa di akhir kata seseorang terbawa rasa hampa; kenapa cerita tentang sorga tak membuatnya bahagia tak menjadikannya suka cita seperti ketika kecil dulu terlena seharian di sisi ibu Tanganmu buah-buah kenari yang berjatuhan sepanjang hari tanganmu senyap batu beradu di dasar kolam yang menunggu Tanganmu,tanganku, tangan waktukah yang lunglai hilang lambai Aku dan maut datang dengan wangi bunga yang sama Maut dan aku berbagi derita rahasia kecupan pertama; tapi bukan dalam sajakmu. PUISI OKTOBER UNTUK TILEM Baru saja aku terpana oleh matanya yang jenaka Baru saja ibunya yang jelita beranjak sejenak meninggalkannya Bayang si anak seketika itu melayang luluh begitu cepat menembus dinding Malam yang puing hanya menyisakan dongeng Di bahunya yang hangus tak tumbuh sepasang sayap yang menjanjikannya sorga Tuhan yang kadang tak bernama perkenankan aku tak memahamimu TIANANMEN Kepada Suklu Istana larangan bayangan kota terlarang Kau duga itu hanya sekilas pandang dari kisah tak terhapuskan seorang anak muda berdiri di depan tank yang tak kunjung retak oleh isak Kau kira itu serupa torehan cahaya yang menggenangi dinding ujung paling lengang dari kanvasmu Namun di bawah hujan yang basah oleh kenangan pohon tua di tepi petang sesaat lagi tumbang Seekor ulat yang menghuni sepotong daun terlambat menyadari bahwa dirinya tak punya waktu untuk menjelma seekor kupu-kupu. Lalu di sisi lapangan yang agung ini seorang ibu memberimu sekerat roti sambil berulang meyakinkanmu bahwa revolusi telah selesai tadi pagi. ODE DINI HARI Seekor cicak mati sedini ini sendirian tubuhnya remang membayang menggenangi lantai dingin tersentuh pendar cahaya dari seberang tak ada sekadar sapa duka atau doa sederhana yang memberkatinya begitu saja hidupnya lintas percuma seakan terlupakan tanpa makna padahal bermalam sebelumnya suara riangnya melipur kita menggodamu dengan teka-teki nasib bahwa hari esok akan jauh lebih baik apakah bunyi hujan di luar itu adalah suara gaibnya atau lenguh dan keluh kita yang tak bersudah seekor cicak mati sedini ini harinya telah selesai tapi matanya masih saja terbuka walau hampa tanpa cahaya menatap ke arah gelap dimana senyap tak kunjung tersingkap sebagaimana hidup ini yang lenyap sekejap
Tag:
Avatar

Warih Wisatsana

Related Posts
Cerpen

Negeri Kopi

BY Ida Ayu Putri Adityarini Agustus 14, 2016

AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...

Read More