“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Cerpen: Juli Sastrawan
SENDIRI di kamar adalah kebiasaanku. Hal yang biasa dan paling sering aku lakukan saat sendiri adalah menyendiri. Aku putar kenop speaker ke kanan dan segera terdengar dengungan Gloomy Sunday milik Billie Holiday. Aku sering tidak bisa memejamkan mata pada saat jam normal ketika orang-orang memejamkan mata. Aku arahkan pandanganku pada sebuah buku yang belum rampung aku baca. Pembatas buku terselip di halaman 72, halaman akhir bab tentang takdir dan peramal masa depan. Seketika pikiranku melayang melewati ruang dan waktu. Aku terbayang bagaimana rumitnya Einstein menemukan buah pikiran yang dinyatakan sepele hanya dengan penggambaran 4 abjad huruf t,x,y,z. Aku tutup jendela. Tampak hujan gerimis ketika dilihat ke arah lampu merkuri yang berdiri tepat di depan rumah kontrakanku. Jam berkata sudah hampir pagi. Seolah-olah jam memintaku untuk segera tidur ketimbang mengerjakan sesuatu yang rumit apalagi dengan kemampuan IQ jongkok setengah tengadah sepertiku. Tapi aku sama sekali tak terpengaruh bualan angka-angka pada jam. Aku mengambil kretek yang tertumpuk di atas tumpukan buku spiritual atau keagamaan, pikirku mereka, ppenulis buku itu, sama saja. Aku belum mengerti jelas apa itu spiritual dan seperti apa model orang spritual yang memiliki spritualitas tinggi. Sedikitpun aku tak sempat membacanya. Bahkan melihat daftar isinya saja aku sudah mulai merasa ada goncangan air asam pada lambung. Aku merasa waktuku yang tak begitu berguna jika harus aku gunakan untuk membaca sesuatu yang sangat susah ditangkap penjelasannya. Yang menjelaskan sesuatu yang tak jelas-jelas sangat jelas akan kejelasan yang dijelaskannya. Aku harap kamu mengerti maksud penjelasanku ini. Karena yang aku inginkan hanyalah kejelasan yang sejelas-jelasnya. Dengan bantuan korek api kayu aku mulai menikmati kretek yang aku beli di warung sebelah kontrakan. Ketika aku melihat batang korek api setelah menyala itu, aku tersadar. Batang korek api itu mirip ormas-ormas fasis, he he he. Ada kepala tapi tak ada otak. Digesek sedikit langsung menyala. Setelah itu tak berguna. Ya mungkin saja bisa berguna untuk sebagian orang. Seperti contoh kakekku. Ia membersihkan telinganya dengan korek api. Di sebelah tumpukan buku keagamaan itu aku melihat satu buku yang menarik perhatianku. Aku lihat sebuah buku bertuliskan Soe Hok Gie, sekali lagi dan untuk kesekian kalinya. Aku mengambil buku itu dan membukannya. Aku lihat sebuah cetakan berwarna merah muda di sebuah halaman sebelum daftar isi. Cetakan itu persis seperti cetakan mulut seorang wanita. Bertuliskan HBD Ayang. Dengan menggunakan tinta berwarna hitam. “Boleh aku masuk?” Terdengar suara dari luar pintu rumah kontrakanku. Aku kenal suara itu. Sepertinya suara Ida. Teman wanitaku. Ia anak yang baik. Taat dengan kepercayaannya dan percaya kalau Tuhan ada di mana-mana. Meski begitu terkadang sangat menjengkelkan ketika dia bicara dan membumbuinya dengan sesuatu yang tak pernah aku mengerti. Karena aku teman yang baik jadi aku hanya mangut dan tersenyum mengiyakan saja. “Ya masuk saja, pintunya nggak aku kunci!” Aku menjawab sewajarnya. Tidak dengan nada tinggi, meskipun kedatangannya sedikit menggangguku. Apa yang dicari wanita ini pukul setengah 3 pagi. Dengan cuaca gerimis dan udara yang dingin menyelimuti tulang mungkin hanya wanita gila yang datang ke rumah orang lain. Ah, tapi Ida adalah wanita beragama. Tak mungkin dia gila. Lagi pula dia cantik. Dengan mata kijang dan kulit sawo matang bersih nampaknya dia tidak gila. Pikirku singkat waktu itu. Ini aku bawakan kamu makanan kesukaanmu. Sambil memberikan kantong plastik berwarna putih berukuran sedang. Saat itu Ida tampak basah dari atas sampai bawah. Aku memintanya mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaianku. Dia mengiyakan dengan senyum dan bergegas pergi ke arah kamar mandi. Benar-benar wanita yang baik, pikirku sambil mengambil baju berwarna putih di lemari. Aku menutup buku Dunia Sophie yang belum juga selesai aku baca dan memutuskan untuk berbaring di kasur. “Aku akan tidur sekarang. Apa kamu menginap di sini? Kalau tidak tolong nanti tutup pintunya ya. Tidak usah dikunci”. Ida tidak menjawabnya. Mungkin dia tidak mendengarnya karena suara air yang mengisi setengah bak kosong sangat bergemuruh dengan ramainya. Entahlah, yang penting aku sudah sampaikan. Lebih baik tubuh ini aku istirahatkan dan memberikan ketidaksadaranku dengan ruang akan kesadaran yang tidak berdasarkan kesadaran. Ida menatapku dengan senyum bahagia. Sini aku peluk, katanya sambil membuka dan merentangkan tangannya ke arahku. “Aku pertama kali melakukannya. Sekarang aku tak ingin hanya sekedar kata-kata. Aku sangat ingin melakukannya. Bersamamu, pria berumur seperempat abad yang aku kenal pertama kali saat OSPEK mahasiswa Fakultas Sastra. Pria dengan selera musik aneh dan pergaulan yang tampak akan kusut jika diuraikan. Dia meraba selangkanganku. Apa ini yang kamu inginkan?” Dia tampak serius. Aku hanya mematung. Aku tak tahu persis apa yang harus aku katakan. Dia tidak pernah berkata sepatah kata soal ini. Apalagi dengan niat untuk melakukannya. Seingatku, Ida adalah wanita beragama yang baik dan cantik tapi terkadang menjengkelkan. Aku terbawa dalam dimensi Ida. Membuatku melakukan hal yang sama seperti apa yang Ida lakukan. Dalam ruang gelap dan pengap dua tubuh menjadi satu. Melayang mengudara layaknya sebuah pasangan dara. Ida memegang tubuhku erat dengan bisikan di telinga yang semakin lama membuatku semakin tenggelam dalam dimensinya, Dalam ruang gelap dan pengap. Ida mengucapkan terima kasih. Tidak terlihat wajahnya tersenyum atau biasa saja saat mengucapkannya. Yang aku tahu Ida saat ini berbeda dengan Ida yang aku tahu kemarin-kemarin hari. Dalam ruang gelap kini ilusi kian memudar. Matahari membuyarkan ingatanku. Aku bangkit mengarah ke tumpukan buku keagamaan milik seseorang. Tak ada Ida. Tak ada kretek. Yang tersisa hanyalah pintu rumah yang terbuka. Aku membalikkan kenop speaker ke arah kiri dengan lagu Gloomy Sunday yang telah diputar berulang-ulang. Aku terdiam dan tenggelam dalam selembar halaman buku dengan cetakan mulut wanita berwarna merah jambu. Sendiri di kamar adalah kebiasaanku. Hal yang biasa dan paling sering aku lakukan saat sendiri adalah menyendiri. (T)
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...