I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Rahasia Keluarga

I Putu Agus Phebi Rosadi
by I Putu Agus Phebi Rosadi — Maret 04, 2017 in Puisi

Tatkala.co
TIGA RAHASIA KELUARGA -Cerita dari MHP Liur Ular Papa Di keluarga kita Anak bujang tak pantas bersedih Bila hanya cinta bertolak Ke rumah tua ke pusar rahasia keluarga Di sana akan kau dengarkan cerita Akan kau temukan rahasia; Sebuah kendi berabad usia Di dalamnya sebuah hutan kerdil Di dalamnya ada tuan penjaga; Ular sabuk yang melilit di setiap reranting Dengan mulut menganga sepanjang jalan cerita Ambil secawan saja, Putu Ambil secawan liur Maka sihir pemikat terbuka seketika Usap pelan di tangan dan lekas jabatkan Perempuan mana yang tak lekat dalam perangkap Seperti hewan buruan beriring masuk jebakan Arjuna Memanah Bila benar kau telah mengenal perempuan itu runutkan sihir pikat dengan sebiji koin beralas perak berbadan logam bergambar arjuna memanah Kau hanya perlu mengenggam Seketika nyawamu akan bersilang tukar Dengan tuah tuan Arjuna berparas tampan rupawan dalam pejam mata, bayangkan perempuan lesatkan anak panah dari bebulu perindu Bidik tepat di letak jantung Maka hatimu akan bertaut di hulu rindu Topeng Kuda Nguyang Kemudian lekas tuntaskan segalanya ikat tali benang dengan sebuah rajah topeng berwajah kuda nguyang Lengkap dengan sebuah mantra rapalkan segera Kenakan di wajahmu, kenakan Agar padang sabana cinta terbuka Di sana ada kuda sepasang dalam sihir kelamin kau berlaku seperti si jantan menebar peluh perempuan itu, menjelma betina menahan lenguh Maka benarlah kalian sepasang kuda akan bersatu hingga ke kubur jasad Begitulah kiranya tergenapkan tiga rahasia keluarga biar anak bujang berdendang di pucuk kasmaran OPERA CINTA -EFFK Di laut lepas, kau telah jatuh dalam umpama Sebagai Kapiten yang jatuh cinta Pada isteri Kelasi Betapa kau ingin berdiam di gerai rambut perempuan itu Menyelinap dalam helai dan memamah wangi Betapa kau telah jatuh cinta padanya Seperti kutu mengisap candu Tapi bagaimana seorang lelaki, sekaligus suami Akan selamanya memalang kuat Bagi cinta yang datang terlambat Kemudian lihatlah Suaramu kian rendah Dan ombak yang resah Menggenapkan kesedihan Meski di atas panggung, katamu Cinta memang benar sekadar umpama Tapi sorot matamu, sorot mata Kapiten Lihatlah, ia lelaki patah hati Dan Sebelum lampu panggung itu mati Kukira kau terlanjur jatuh dalam teka-teki SEBELUM MEMBACA PUISI -Salianti RD Di panggung itu, penyair tua pernah membaca puisi dengan kujur keringat di dahi seperti berseteru dengan matahari Si pembaca puisi turun tangga dengan dada sakit sebagian jika gemetar masih lekat di tubuhmu jangan mengulang kisah lama si pembaca puisi dengan keringat di dahi lihatlah di kejauhan aku punya sepasang bola mata kau boleh mencurinya
Tag: Puisi
Avatar

I Putu Agus Phebi Rosadi

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More