Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Beruntung, Sabtu (25/2) malam, saya berkesempatan untuk datang di acara “Singaraja Movement” di Matrix Coffee, Jalan WR Supratman Singaraja. Senang rasanya ketika gempuran-gempuran band mainstream kian menjamur, kini di Singaraja ada gebrakan baru dalam bermusik. Dengan cara kolektif.
Bertemakan “Stay Together” acara ini seolah-olah menjadi tempat bagi mereka untuk berkumpul, bermusik dan menyampaikan pesan tanpa adanya intervensi oleh pihak penyelenggara karena dianggap membangkang dan/subversif.
Band yang bergabung dalam acara itu semua dengan visi misi yang hampir sama. Berasal dari berbagai daerah seperti Tabanan, Jembrana, dan Gianyar mereka datang hanya dengan kesamaan semangat dan passion mereka dalam bermusik. Tidak ada bayaran untuk band yang main.
Jangankan bayaran main, nasi bungkus pun tak dapat apalagi uang bensin. Malahan band yang main yang membayarnya. Uang kolekan sebutannya, untuk keberlanjutan acara dan skena musik itu sendiri. Tak ada model penyelenggara acara musik macam kapitalis yang menarik keuntungan dari orang lain hanya untuk kerakusan individu/kelompoknya. Murni karena semangat dan kecintaan yang sama.
Tidak hanya musik, acara tersebut juga diramaikan dengan lapak baca berjenis zine. Diambil dari kebudayaan punk dengan tujuan edukasi dan sebagai bentuk media informasi independent, membuat acara tersebut semakin seru.
Terlepas dari itu semua, menurut saya acara itu merupakan bentuk pembuktian bahwa skena musik mereka masih hidup, menggeliat layaknya proses menuju bentuk yang lebih baik. Sudah dipandang perlu adanya dukungan-dukungan dari kawan sepemahaman yang memandang jalur ini adalah jalur asyik dalam berkarya dan berjejaring.
Terakhir. Bermusik tak melulu soal lagu cinta dan mendayu. Bukan karena kuping kita Melayu jadi lebih suka yang sendu-sendu. Melainkan bagaimana kita menggunakan musik itu sendiri sebagai alat dan media penyampaian pesan dan tujuan yang ingin disuarakan. Itu kenapa peran skena musik bawah tanah perlu dibangkitkan. (T)
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...