‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Ada beberapa hal yang menurutku unik dalam perjalanan menuju puncak pada malam itu. Yang pertama adalah pelinggih ‘pohon kembar’ yang seperti gerbang menuju puncak. Tak lupa kami sembahyang, sekaligus mohon ijin gitu deh guys. Kemudian, di beberapa menit sebelum puncak, juga ada pelinggih yang menurut internet namanya Pura Beji. Pelinggihnya beratapkan ijuk dan dinaungi pohon rapat. Kalo siang, pasti keren banget untuk foto. Tapi karena malam dan ingin segera berada di puncak, kami tak sempat narsis. Beberapa juga takut kameranya kehujanan. Wkwkw. Ya sudah, narsisnya bisa ditunda sampe besok.
Tak jauh dari Pura Beji, sampailah kami di puncak. Kondisi puncak saat itu sedang berkabut dan hujan. Tanah juga menjadi licin. Kami satu-satunya rombongan di atas. Tak ada pendaki ataupun pemedek lain. Di kejauhan, kulihat ada pelinggih meru dan beberapa pelinggih lain dalam kompleks yang sama. Di beberapa bagian juga kulihat ada bale-bale.
Selamat datang di Pura Pucak Mangu, begitu ucapku dalam hati. Aku lega, bahagia dan bersyukur sekali bisa ‘tangkil’ di salah satu pura penting di Bali ini. Aku segera menuju pura dan bersembahyang di sana.
Nah, selanjutnya adalah menentukan lokasi camp. Seluruh kawasan pura tampaknya becek sekali. Mila, Dwik dan Made memilih untuk membangun tenda di bale-bale. Iwan juga demikian, dengan alasan tanah sedang dalam kondisi becek. Aku dan Tusan memilih berkemah di bawah pohon. Kebetulan tanahnya agak berumput, memang basah, tapi tidak becek.
Sementara Gede dan Gorby berkemah tepat di samping tenda kami. Suasana sangat menenangkan, udara dingin, tenda yang nyaman, suplai makanan yang cukup, dan teman-teman yang lucu. Angin menderu dengan keras. Sayup-sayup bisa kudengar suara pinus yang diterpa angin, kadang beberapa dahan patah, jatuh ke atap bale. Suasana memang gelap, tapi aku merasa damai. Tidur juga nyenyak banget.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan cerah menyingkap pemandangan indah Gunung Catur. Dari kejauhan, tampak Danau Beratan dan gugusan pegunungan kawasan Bedugul. Ketika cuaca makin cerah, kabut tipis perlahan hilang, memperjelas Danau Beratan yang berkilauan.
Tampak di kejauhan mobil-mobil bergerak perlahan seperti semut di jalur Bedugul. Rasanya menakjubkan, karena biasanya aku cuma melihat gunung ini dari jalan di Bedugul. Kini sebaliknya, aku melihat jalan di Bedugul dari puncak Gunung Catur.
Seperti otomatis, langsung aja para geng narsis beraksi. Cekrek. Cekrek. Cekrek. Sampai ratusan cekrek. Wkwkw. Buat video juga tidak dilewatkan. Pokoknya seru banget.
Nah, tidak lupa juga kami ngayah bersih-bersih di sekitar kawasan pura. Setelah bersih-bersih, kami langsung memakai pakaian adat dan bersembahyang bersama. Duh… suasananya itu lho. Suasana khusyuk, ditambah semilir angin, apalagi cuaca yang adem, bikin betah berdoa lama-lama.
Jam 10, kami balik. Dalam perjalanan turun, barulah kita lihat kondisi hutan yang sebenarnya. Pada intinya, hutan Gunung Catur masih terjaga dengan baik. Pohon-pohon tumbuh tinggi membentuk kanopi lebat, berbagai jenis paku juga tumbuh subur. Dasar geng narsis, bahkan dalam perjalanan pulang pun teman-temanku masih tetap foto-foto. Aku juga ikut sih. Wkwkw.
Menjelang siang, banyak pemedek yang mendaki untuk bersembahyang. Perjalanan turun sedikit lebih cepat, kira-kira jam 12 siang sudah berada di parkiran. Baru kusadari, di mata kakiku bercokol seekor lintah dengan imutnya menghisap darahku.
Sebelum membasminya, kusempatkan mengambil foto lintah itu. Tusan langsung membalurkan minyak GPU ke lintah itu, dan segera saja lintah itu menggelinjang manja dan melepaskan tubuhnya dari kakiku. Konsekuensinya, darah terus mengalir. Ada seorang pedagang yang memberikan serbuk kopi, katanya harus ditempelkan gitu ke luka bekas gigitan lintah. Beberapa jam setelahnya, darah terus mengalir. Katanya sih memang lama gitu sih keringnya..
Pura Pucak Mangu memang luar biasa. Vibrasi spiritual yang kental ditambah pemandangan yang indah membuat Gunung Catur ini layak dikunjungi, terutama untuk keperluan spiritual. Pada akhirnya, aku dan teman-teman pun sepakat bahwa kami akan kembali. Udah deh guys.. langsung aja ke sana dan buktikan sendiri keindahan Pura Pucak Mangu. (T)
Tulisan lain Canestra Adi Putra bisa dilihat di: Blog Canestra - Music. Travel. Books. Movies. Culinary. Designs. Fashion. Lifestyle. Random Stuffs.
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...