Sedikit-Sedikit Mengenai Puisi Wislawa Szymborska: Keanggunan Berpikir, Kenakalan Perspektif

Zulkifli Songyanan
by Zulkifli Songyanan — Januari 28, 2017 in Ulasan

Tatkala.co
SUNGGUH sulit membayangkan kehidupan tanpa humor. Namun anehnya, saya pikir lebih sulit lagi membayangkan humor dapat hidup dalam puisi. Kesan ‘angker’ bahwa puisi selalu anggun dan serius, sedikit-banyak telah membentuk sebuah perspektif bahwa puisi dan humor adalah dua hal yang bertentangan. Perspektif demikian, setidaknya dalam kepala saya pribadi, hidup cukup lama sampai akhirnya saya bertemu puisi-puisi Yudhistra AM dan Joko Pinurbo. Tapi, lupakan dulu puisi-puisi Yudhis dan Jokpin. Dalam tulisan singkat ini saya ingin mengungkapkan kesan-kesan saya selepas membaca beberapa puisi karya perempuan penyair terbaik Polandia, marhumah Wislawa Szymborska. Sudah lama saya jatuh cinta pada puisi-puisi penyair bernama lengkap Maria Wislawa Anna Szymborska ini. Puisi-puisinya yang tenang dan sederhana, sering kali memendam ungkapan-ungkapan filosofis yang memukau. Bahkan sampai sekarang, ungkapan ‘maafkan aku, wahai perang yang jauh karena pulang membawa bunga’ (Di Bawah Bintang Kecil—terjemahanAgus R. Sarjono dalam Majalah Horison) masih saya anggap sebagai salah satu ungkapan puisi paling mengesankan yang pernah saya baca. Puisi-puisi Szymborska penuh dengan ironi. Di satu sisi ia menampakkan keanggunan berpikir, di sisi lain ia menunjukkan kenakalan perspektifnya yang penuh humor. Kekuatan puisi Szymborska memang terletak di situ. Dalam ungkapan-ungkapan puisinya yang bersahaja, ia sanggup membuat pembaca untuk merenung sekaligus tersenyum sambil menahan tawa. Simak baris puisi berikut. Apa yang didapat dunia dari dua manusia/ yang tinggal di dalam dunia mereka sendiri?//...// Lihatlah pasangan yang bahagia./ Bisakah mereka, setidaknya,  menyembunyikan kebahagiaan itu/ dengan pura-pura sedikit depresi, demi kepentingan teman-temannya?/ Dengarkan mereka tertawa—itu adalah penghinaan./ Bahasa yang mereka gunakan— sungguh jelas menipu./ Dan perayaan kecil mereka—ritual demi ritual,/ rutinitas yang rumit—/ merupakan alur bagi kemunduran umat manusia!// (Cinta Sejati) Bagi saya pribadi, puisi di atas jadi mengejutkan lantaran, pertama, ditulis oleh seorang perempuan; kedua, pernyataannya benar. Bagi kebanyakan perempuan (pernyataan ini bukan berarti tidak berlaku bagi kebanyakan laki-laki), puisi cinta selalu identik dengan kelembutan dan keagungan. Cinta yang mereka dambakan, yang sering kali terkesan tidak berpijak di bumi—meski dibalut ungkapan-ungkapan garang dan menggugat—kerap terasa romantik dan sentimental. Pada Szymborska, kecenderungan demikian tidak tampak. Dengan jelas, puisi di atas berusaha mewartakan pada pembaca bahwa sejatinya cinta sejati tidak melulu bersifat teknis dan seremonial. Dalam pandangan Szymborska—yang terasa kritis dan penuh semangat menertawakan—cinta sejati tidak hinggap pada jiwa satu-dua individu semata. Ia mestilah universal. Dan ya, universalitas! Nilai itulah yang kemudian menjadi kekuatan lain puisi-puisi  Szymborska. Sebagai peraih Nobel, meski banyak bicara mengenai perasaan maupun ‘urusan-urusan sepele’, beberapa puisi Szymborska seakan-akan menjelma menjadi corong yang menyuarakan kesedihan sekaligus kegembiraan umat manusia. Dan uniknya (hal ini amat wajar dan sering kali dibicarakan dalam esai-esai mengenai puisi), puisi-puisi Wislawa yang bersifat universal justru terpancar dari gaya tuturnya yang sangat otentik dan personal. Aku minta maaf kepada kesempatan lantaran menyebutnya keharusan./ Aku minta maaf kepada keharusan, jika, setelah segalanya berlalu, aku terbukti keliru./ Tolong, jangan marah, kebahagiaan, jika kau kuambil sebagai hakku./ Semoga kematianku akan bersabar lantaran kenanganku pun turut memudar./ Aku minta maaf kepada waktu atas dunia yang kuabaikan setiap detik./ Aku minta maaf pada cintaku di masa lalu lantaran kupikir/ bahwa cintaku yang baru ialah yang pertama./ Maafkan aku, perang yang jauh,lantaran aku pulang membawa bunga.// (Di Bawah Sekeping Bintang Kecil) Larik-larik di atas ditulis dengan nada pertentangan yang lembut, namun ketat sekaligus penuh perhitungan. Hal-hal demikian memang menjadi kekhasan dalam puisi-puisi Szymborska. Pertentangan dan kelembutan, gagasan liardalam bentuk yang tertib, sering kali tampak pada hal-hal detail yang dikemukakan Szymborska dalam puisinya. Membaca puisi dengan detail-detail semacam itu—dengan tema yang sangat beragam: sejarah, kenangan, cinta, politik, perubahan iklim, kontes binaraga, kapitalisme, tumbuh-tumbuhan, terorisme, perang, dan lain sebagainya—yang kemudian ditegaskan oleh Szymborska bahwa dirinya memendam rasa penasaran yang besar terhadap segala sesuatu,menjadikan puisi-puisinya tidak sematahadir sebagai hasil keperajinan (craftmanship) berbahasa, namun sebagai ruang intropeksi yang terasa sangat meditatif. Hanya, hasilmeditasi yang dilakukan Szymborska ujung-ujungnya malah lebih sering menelurkan suara polos nan riang milik anak-anak tinimbang suara berat nan karismatik milik seorang petapa. Karenaitulah bukan hal berlebihan bila sosok yang dikenal sebagai perokok berat ini dijuluki publik sebagai “The Litle Mozart”, atau Mozart-nya para penyair.Simak dua baris Keajaiban yang Wajar dan Perihal Kematian, Tanpa Ungkapan Berlebihan berikut. Sebuah keajaiban, apa pun dapat kau sebut begitu:/ hari ini matahari akan terbit pukul delapan lebih empat belas/tapi ditetapkan pukul delapan lebih semenit//. Sebuah keajaiban lain, tapi tak begitu mengejutkan:/ meski tangan memiliki jemari kurang dari enam/ ia masih berjumlah lebih dari empat.Hanya dengan melihat ke sekitar, keajaiban ialah:/ dunia ada di mana-mana./ Dan keajaiban tambahan,/ sebagaimana tambahan-tambahan lainnya:// bahwa apa yang tak terpikirkan/ ialah hal-hal yang masuk akal. (Keajaiban yang Wajar) Ia tak bisa diajak bercanda/ menunjuk sekeping bintang, atau membangun jembatan./ Ia tak tahu apa-apa mengenai tenunan, pertambangan, pertanian,/ membuat kapal, bahkan memanggang roti.// Dalam rencana kami esok hari,/ ia hanya kata terakhir,/ yang disimpan di samping titik.// Salah satu cirinya/ia tetap tak berdaya/ meski banyak hal telah dilakukan untuknya:/menggali kubur,/ membuat peti mati/,membereskan pemakaman.// Oh, rupanya kematian telah mendapat kemenangan, /tapi lihatlah kekalahannya yang tak terbilang,/serangannya yang luput,/ juga usahanya yang berulang!// Kadang-kadang ia tak cukup kuat/untuk sekadar menepis lalat di udara./ Dan banyak ulat/ merayap pelan di atas tubuhnya.// (Perihal Kematian, Tanpa Ungkapan Berlebihan) Wislawa Szymborska adalah satu dari sekian banyak penyair dunia yang nama serta karyanya cukup dikenal luas di Indonesia. Beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh banyak pihak dan untuk berbagai kepentingan. Kesederhanaan bahasa, juga gagasan-gagasannya yang unik dan universal, saya kira merupakan alasan mengapa sajak Szymborska ‘cenderung mudah’ diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Saya tak dapat membayangkan betapa indahnya puisi-puisi tersebut sekiranya dibaca dan dilafalkan dalam bahasa aslinya, bahasa Polandia. Siapapun yang membaca puisi-puisi Wislawa Szymborskasudah selayaknya dapat belajar banyak untuk dapatberpikir cerdas, santai, dan kritis.Lewat sajak-sajaknya, Wislawa menunjukkan bahwa pikiran-pikiran sederhana sekalipun, ditunjang dengan kepribadian yang kokoh dan cara pandang yang segar, dapat jadi modal untuk merenungi sekaligus menertawakan kehidupan. Hidup sudah terlalu suntuk dengan hal-hal biasa yang selalu dibesar-besarkan. Sedang apa yang kita perlukan ialah kemampuan untuk terbiasa menyederhanakan persoalan-persoalan besar. Wislawa Szymborska mengajari kita untuk berlaku seperti itu. Catatan: Kutipan puisi-puisi Szymborska di atas, juga beberapa puisinya berikut, diterjemahkan penulis dari beberapa sumber, antara lain situs poemhunter.com dan antologi puisi Wislawa Szymborska, North. Semuanya berdasar pada terjemahan Bahasa Inggris versi Clare Cavanagh dan Stanislaw Baranczak. Puisi-puisi Wislawa Szymborska

UTOPIA

  Inilah pulau di mana segala hal tampak jelas. Tanah yang kokoh tersimpan di bawah kakimu. Satu-satunya jalan menawarkan jalan masuk. Semak belukar merunduk di bawah pijakan yang nyata. Di sini Pohon Perkiraan Yang Benar tumbuh dengan cabang-cabang yang menjulur dari masa lalu. Dengan penuh pesona, Pohon Pemahaman pun tumbuh lurus dan sederhana berakar pada musim semi yang disebut Telah Kudapatkan. Lebih lebat dari hutan, lebih luas dari pemandangan: Lembah Kesungguhan. Apabila keraguan muncul, angin menghempasnya seketika. Gema keributan datang tiba-tiba dengan penuh semangat menguraikan seluruh rahasia dunia. Di kanan Goa Makna pun terbaring. Di kiri Danau Keyakinan Yang Dalam. Di situ Kebenaran terpendam lalu timbul ke permukaan. Di atas lembah, Menara Kepercayaan yang Tak Tergoyahkan. Puncaknya menawarkan pemandangan indah berupa Hakikat Benda-benda. Yang lebih mempesona, pulau ini tak berpenghuni, tapi samar jejak kaki tersebar di tepian pantainya lurus, mengarah ke laut. Seakan apa yang kau dapat lakukan disini hanyalah pergi lalu melompat tak kembali, menuju kedalaman. Kedalaman hidup yang tak terduga.

CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

  Keduanya percaya luapan emosi yang tiba-tiba telah memenuhi jiwa mereka. Keindahan adalah suatu perkara yang pasti. Tapi ketidakpastian selalu lebih indah.   Karena tak saling mengenal sebelumnya, mereka mengira tak akan terjadi apa-apa pada diri mereka. Lantas bagaimana dengan jalan demi jalan, tangga demi tangga, serta koridor tempat mereka pernah berpapasan di masa silam?   Ingin kutanyakan pada mereka apakah mereka ingat — misal, di sebuah pintu-putar mereka pernah saling bertatapan? Mengucapkan ‘permisi’ di tengah orang banyak atau mengatakan ‘salah sambung’ saat menerima panggilan. Tapi aku tahu jawabannya: mereka tak akan mengingat hal-hal semacam itu.   Sungguh mereka akan merasa heran bahwa dalam waktu yang cukup lama mereka pernah belajar dan bermain bersama.   Saat itu takdir belum sepenuhnya siap untuk masuk dalam hidup mereka, tapi kini ia mulai mendekat, berjalan mundur lalu sambil tertawa gembira melompat menghadang mereka.   Ada banyak tanda, juga isyarat: tapi apa artinya jika semua tak terlihat? Mungkin tiga tahun lalu, atau selasa kemarin sebuah selebaran melayang hinggap dari satu bahu ke bahu yang lain? Ada sesuatu yang hilang sekaligus tertangkap. Barangkali bola dari semak-semak masa kanak.   Ada banyak pintu, juga lonceng yang lebih dulu dipenuhi sentuhan. Koper mereka berada dalam bagasi yang sama. Bahkan di malam-malam tertentu mungkin tidur mereka pun dilimpahi mimpi yang sama, mimpi yang tiba-tiba hilang, setiap kali pagi datang.   Setiap awalan hanyalah sebuah lanjutan dari kitab kejadian yang tak sepenuhnya terbuka.  

KEHIDUPAN SULIT BERSAMA KENANGAN

  Aku seorang pendengar yang buruk bagi kenanganku. Ia ingin aku memperhatikan suaranya tanpa henti, sedang aku gelisah, menggerutu, mendengar dan abai, melangkah keluar, kembali, lalu meninggalkannya lagi.   Ia menginginkan seluruh waktu dan perhatianku. Ia tak punya masalah saat aku tidur. Saat hari menawarkan hal berbeda, ia cukup terganggu.   Dengan penuh semangat ia sodorkan surat-surat lama dan potret-potret kepadaku, membangkitkan peristiwa-peristiwa penting dan tak penting, mataku beralih pada pemandangan yang diabaikan, orang-orang mengisinya dengan kematian.   Dalam ceritanya aku senantiasa lebih muda. Itu bagus, sayangnya hanya berlaku pada cerita yang sama. Sedang padaku tiap cermin mengabarkan hal berbeda.   Ia marah saat kuangkat bahu. Dan membalas dendam dengan mengungkit kesalahan lama— berat, tapi mudah dilupakan. Ia menatap mataku, memeriksa reaksiku. Lalu menghiburku, hal itu bisa jadi lebih buruk.   Ia ingin aku hidup hanya untuknya dan bersamanya. Baiknya, dalam ruang gelap dan terkunci. Tapi rencana-rencanaku masih membutuhkan matahari serta arakan awan pada jalurnya sendiri.   Terkadang aku muak dengan dirinya. Kusarankan untuk berpisah. Sejak saat ini hingga selamanya. Lantas ia tersenyum kasihan kepadaku, sebab tahu hal itu akan jadi akhir hidup bagi dirinya dan aku.  

SEDIKIT PERNYATAAN TENTANG JIWA

  Sesekali kita memiliki jiwa. Tapi tak seorang pun sanggup  menjaganya setiap saat.   Hari demi hari tahun demi tahun mungkin berlalu tanpa kehadirannya.   Kadang-kadang ia menetap sebentar dalam ketakutan dan ketakjuban anak-anak. Kadang pula dalam keadaan heran bahwa kita sudah tua.   Ia jarang sekali mengulurkan tangan dalam pekerjaan-pekerjaan berat, misalnya memindahkan perabotan, mengangkat bagasi, atau pergi jauh bermil-mil dengan sepatu kekecilan.   Biasanya ia keluar saat daging-daging mesti dicincang saat berkas-berkas perlu diisi.   Dalam tiap seribu percakapan ia hanya turut sekali, dan itu pun ia jalani dengan diam.   Hanya saat tubuh kita merasa sakit dan nyeri, ia tanggalkan pekerjaan-pekerjaannya.   Ia suka pilih-pilih: tak suka melihat kita dalam keramaian, terburu-buru mencari keuntungan yang meragukan, dan ia bakal sakit mendengar suara akal-bulus berderitan.   Kesenangan dan penderitaan bukanlah dua hal berbeda baginya. Ia menyertai kita justru hanya jika dua hal itu duduk bersama.   Kita bisa mengandalkannya saat kita benar-benar ragu serta serba ingin tahu terhadap segala sesuatu.   Di antara objek-objek material ia mirip bandul jam dan cermin, mereka  terus bekerja bahkan saat tak seorang pun melihatnya.   Ia tak kan mengatakan dari mana ia datang atau kapan ia akan pergi meski jelas, ia mengharapkan pertanyaan demikian.   Kita membutuhkan jiwa tapi tampaknya untuk beberapa alasan tertentu ia membutuhkan kita juga.  

ANAK ZAMAN KITA

  Kita adalah anak zaman ini, zaman politik.   Sepanjang hari, sepanjang malam, segala urusan—milik siapa pun— adalah urusan politik.   Persetan engkau suka atau tidak, dalam darahmu mengalir silsilah politik, pada kulitmu menempel balutan politik, pada matamu terdapat pandangan politik.   Apa pun yang kau katakan akan bergema, apa yang tak kau katakan akan bicara sendiri. Dengan begitu, kau larut dalam pembicaraan politik.   Bahkan ketika kau pergi ke hutan, kau tengah mengambil langkah politik atas alasan yang politis.   Puisi-puisi apolitik tetap saja bersifat politis, di atas kita bulan memancar meskipun sinarnya tak murni lagi. Bagaimanapun, itulah pertanyaan. Dan meski cukup mengganggu pencernaan hal itu tetap merupakan pertanyaan —tentunya—pertanyaan politik.   Untuk mendapat makna politik tak usahlah engkau jadi manusia. Biarkan sumber daya mentah mendapatkannya, bersama makanan berprotein, minyak bumi,   atau sebuah meja konferensi yang bentuknya telah menjadi perdebatan berbulan-bulan; haruskah kita menentukan hidup dan mati di atas meja yang bundar atau persegi ini?   Sementara itu, orang-orang meninggal hewan-hewan mati, rumah demi rumah terbakar, dan tanah lapang pun hancur berantakan seperi peristiwa di masa lampau yang —padahal— kurang berpolitik.  

MENSYUKURI KEBURUKAN DIRIMU

  Burung elang tak pernah mengatakan bahwa tindakannya terkutuk. Harimau kumbang tak akan tahu artinya keberatan. Ketika seekor piranha menyerangmu, ia tak mungkin merasa malu. Jika ular memiliki tangan, mereka akan menyatakan tangannya bersih.   Serigala tentu tak memahami penyesalan. Singa dan kutu tak meragukan kebiasaan mereka. Mengapa harus mereka, kapan mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah perkara yang benar?   Meskipun jantung paus pembunuh bobotnya satu ton namun dengan cara-cara tertentu mereka justru merasa ringan.   Di bumi ini, ciri paling utama dari kebuasan tak lain ialah suara bening hati nurani.  

REMAJA

  Aku— seorang remaja? Jika ia tiba-tiba berdiri, kini, di sini, sebelum aku, haruskah kuperlakukan dirinya dengan ramah dan penuh sayang, meski bagiku ia asing dan berjarak?   Meneteskan air mata, mengecup keningnya demi alasan sederhana bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama?   Sejak matanya terlihat lebih besar, bulu matanya lebih panjang, ia pun lebih tinggi dan seluruh tubuhnya terbungkus rapat dalam kelembutan, kulit tak bercacat.   Kerabat dan sahabat masih menghubungkan kami, itu benar, tapi dalam dunianya segala hal masih hidup sedang dalam duniaku tak satu pun bertahan dari lingkaran yang sama itu.   Kami sungguh sangat berbeda, bicara dan berpikir mengenai hal-hal yang sama sekali berbeda. Ia serba tahu— dan dengan kegigihan ia layak mengemukakan alasan-alasan yang lebih baik. Aku tahu lebih banyak— Tapi pernyataanku tak ada yang meyakinkan.   Ia menunjukanku beberapa puisi, ditulis dalam kalimat jernih dan hati-hati yang tak kupakai selama bertahun-tahun.   Kubaca puisi, kubaca semuanya. Nah, andai saja salah satunya ditulis lebih pendek dan tetap berada di berbagai tempat. Sisanya, bukan pertanda yang baik.   Dalam perpisahan, tak ada senyum yang bertahan dan tanpa emosi kecuali saat ia berlalu meninggalkan syalnya terburu-buru.   Syal dari bahan wool asli, dengan corak bergaris disulam untuknya oleh ibu kami.   Aku masih memiliki syal itu.   Penterjemah : Zulkifli Songyanan
Avatar

Zulkifli Songyanan

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More