Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
***
“Bangsa kita ini, bukan bangsa penemu, peneliti. Terompet Telolet tak akan ada kelanjutannya, hanya sebatas ide,” kata seorang kawan, saat saya mengutarakan ide Terompet Telolet. Tapi memang benar sih menurut The World’s Most Literate Nations (WMLN) yang merilis daftar negara dengan tingkat literasi paling tinggi di dunia. Indonesia berada di peringkat 60 dari 60 lebih negara yang diteliti oleh Om Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain. Budaya membaca dan menulis yang rendah mencerminkan tingkat keingintahuan yang rendah pula. Hal ini berdampak pada kecilnya kreativitas manusia Indonesia untuk menjadi seorang penemu atau peneliti. Terlepas dari survey tersebut, manusia Indonesia lebih disibukkan dalam urusan adat, agama, hedonisme, serta budaya materialisme. Orang-orangnya sibuk bekerja mencari materi sebanyak-banyaknya, ada pula yang terlalu sibuk mengurus adat di bawah naungan keagaman. Kedua hal tersebut sifatnya mengikat, sehingga manusia Indonesia tidak mampu berpikir liar, keluar dari pakem biasanya. Di sisi lain sistem pendidikan dan kurikulum di Indonesia mengagungkan nilai sebagai batasan mutlak untuk syarat kelulusan, jadi apapun dihalalkan siswa atau mahasiswa untuk mencapai nilai maksimal. Alih-alih mengejar kualitas diri atas ilmu pengetahuan, mereka malah sibuk membuat contekan di kertas ukuran kecil yang bisa disembunyikan dengan mudah. Jika begini susah juga yah. Yuk para pembaca mulailah berpikir di luar kebiasaan, kadang nyaman itu membahayakan lho. Selamat berpikir, dan selamat Tahun Baru. Oooooooom Telolet Oooooooom. (T)
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...