Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
***
“Bangsa kita ini, bukan bangsa penemu, peneliti. Terompet Telolet tak akan ada kelanjutannya, hanya sebatas ide,” kata seorang kawan, saat saya mengutarakan ide Terompet Telolet. Tapi memang benar sih menurut The World’s Most Literate Nations (WMLN) yang merilis daftar negara dengan tingkat literasi paling tinggi di dunia. Indonesia berada di peringkat 60 dari 60 lebih negara yang diteliti oleh Om Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain. Budaya membaca dan menulis yang rendah mencerminkan tingkat keingintahuan yang rendah pula. Hal ini berdampak pada kecilnya kreativitas manusia Indonesia untuk menjadi seorang penemu atau peneliti. Terlepas dari survey tersebut, manusia Indonesia lebih disibukkan dalam urusan adat, agama, hedonisme, serta budaya materialisme. Orang-orangnya sibuk bekerja mencari materi sebanyak-banyaknya, ada pula yang terlalu sibuk mengurus adat di bawah naungan keagaman. Kedua hal tersebut sifatnya mengikat, sehingga manusia Indonesia tidak mampu berpikir liar, keluar dari pakem biasanya. Di sisi lain sistem pendidikan dan kurikulum di Indonesia mengagungkan nilai sebagai batasan mutlak untuk syarat kelulusan, jadi apapun dihalalkan siswa atau mahasiswa untuk mencapai nilai maksimal. Alih-alih mengejar kualitas diri atas ilmu pengetahuan, mereka malah sibuk membuat contekan di kertas ukuran kecil yang bisa disembunyikan dengan mudah. Jika begini susah juga yah. Yuk para pembaca mulailah berpikir di luar kebiasaan, kadang nyaman itu membahayakan lho. Selamat berpikir, dan selamat Tahun Baru. Oooooooom Telolet Oooooooom. (T)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...