Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Muhammad Daffa
by Muhammad Daffa — Desember 17, 2016 in Puisi

Tatkala.co
MENANTI MUSNAH   Aku hampir musnah terlempar api yang memercikku dengan riciknya pijar nyala. Kujalani Titian ilahi Menelungkupkan pelaku dosa tak berdaya di hadapan tuhannya. Aku panjangkan seutas ayat-ayat Karunia semesta tercatat dalam lembar-lembar kitab suci, agar lebih hancur sepi padaku, ke tubuhku Pun telah kugonggongkan tanya, beriring dengan waktu terpatah saat tubuhku mulai terasa deru Debu surga, mengibaskan nyala mataku memandang hari Mulai putih warnanya, mulai hilang pendarnya   Surga diciptakan dari kasih sayang penghuni surga dan janji Tuhan. Tidak pernah sekali pun mengingkari Adanya munajat yang kupanjatkan senantiasa, bergemuruh doa seiring jelang keberangkatan fajar   Barzakh selalu jalan dalam ruang, melepaskan lembar waktu Bagi kita yang sudah semestinya percaya bahwa saat itu tiba, ketika Fajar telah tumbuh di mata, bersama senja. Mengikut lepasnya daun-daun usia   Sebentar ada, sebentar jingga. Jingganya usia 2016   PADA USIA 17 TAHUN   Gigi-gigi senja menuding tujuh belas usiaku memanjat ketinggian hari telah berlalu lewat Aku tak bisa lagi berpura ketika segenap jiwa telah tertumpah benih maut mengincar   Jalan membuka bentangnya, sewaktu aku memang menitikkan derap di atasnya Untuk kemudian sayup dan berlalu dalam ruang paling kosong, putih surga terkucur wangi cahaya   Wajah almanak telah berhasil mencatat belasan usiaku menginjak tujuh belas Biarkanlah aku memelas, ujarku. Tapi sosok senja masih mengincarku dengan cakar sepi merobek   Dingjnnya usia hampir larut, dalam genang air matamu. Kuputihkan suaraku agar samar, agar tak Dengar padamu. Tapi yang kurasa dan kumiliki sekarang hanya sepi, suasana sepi yang mengutuk Dengan liar dan jalang matanya   2016   PESAN KEPADA SEPI   Tak ada basa-basi dalam pertemuan malam ini, telah kucatat beberapa cermin penyimpan niat Tak kunjung berani mengacung tentang pesan-pesannya sebelum melebur dalam sepi   Kesunyian terburuk ialah segala redup mata dalam membaca gugusan tanda akan sampai Di ujung-ujung ubunan, di mana pun maut bagimu menyapa sama Seakan tanpa kenal dengan nama-nama   Kau berkata padaku kemarin hari akan sepi kini, tidak bisa kita duga Betapa lekas desirnya meraba mata dan pori-pori pada raga   Cemerlang pikirmu tidak bisa takjub padanya: lihatlah betapa jemputannya tanpa kenal nama Tanpa tanya, “betulkah ini rumah anu?” Kenalilah lebih awal tanda redup mata, sangat tiba-tiba ia menyeruput usiamu Tanggal dari kehidupan, menitik lengang di suasana ruang tunggu   Ada pesan tertinggal samar di dinding-dinding waktu, tengoklah sekilas ratap Pada yang masih tinggal belum lalu sama sekali   Maka di sebuah hari, kubasuh pesan yang basah oleh sedu peziarah Dengan cahaya. Aku sangat berharap isinya akan baik tak berkabar buruk   Tertulis pesan itu dengan rapi dan penuh gurau menjelang pulang Sebelum maut sampai pada jemputan   “Jika sepi tertanam pada tubuhku, telah kutahu sebelum itu akan begini adanya Lengang kupilih tersebab ia tanpa lelah mengawas sabar dengan mata waktunya Tanpa kupilah yang mana yang benar peduli, yang mana yang tak samar-samar bagi mata Kusampaikan kalimat terakhir untuk sepi yang serba ajaib dan musykil Adakah didengar kata-kata beruntun menebar raung di kamar, menjelang angin senja datang Membawa sebuah keranda dari kejauhan. Sayup-sayup kau mulai menjauh, menjelma debar hening Padaku hari ini, beberapa menit lagi’   2016
Tag: Puisi
Avatar

Muhammad Daffa

Related Posts
Cerpen

Purnama Pasah

BY Kadek Desi Nurani Juli 23, 2016

Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...

Read More