Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...

Ada juga yang mengkaitkan dengan dahulunya di pasar ini ada berbagai macam ‘kreneng’. Tentunya tak banyak lagi generasi muda Bali tahu apa arti ‘kreneng’.
Kreneng adalah alat pembungkus berupa anyaman berbagai buah, daging, periuk, dan berbagai benda lainnya layaknya kantung plastik sekarang. Dengan ‘kreneng’ itulah dahulu orang Bali dan Jawa (sampai kini) membungkus berbagai belanjaan atau bawaan. Kalau tidak memakai 'kreneng' (kereneng) para leluhur Bali memakai sok keranjang, penarak, besek, dan berbagai anyaman bambu lainnya.
Tradisi hidup organik dengan bungkus ‘kreneng’ di Bali telah punah. Terkait atau tidak, nama Pasar Kreneng ini tinggal nama. Itupun tak banyak orang Denpasar yang paham artinya.
Tidakkah sekiranya kembali Denpasar bisa menghidupkan atau memperkenalkan kembali ‘tradisi kreneng’? Sebagai solusi atau alternatif pembungkus belanjaan di pasar?


Di Jawa sendiri, terutama di Jawa Tengah, masih kerap kita lihat ‘kreneng’ dipakai tas daging, tas buah, tas makanan lainya, wadah saat membeli bibit tanaman, bahkan saat membeli periuk tanah masih ada pasar atau penjual yang membungkus jualannya (periuk) dengan kreneng.
Alangkah baiknya Pasar Kreneng kembali menjual kreneng. Kembali mengenal dan memperkenalkan identitas aslinya sebagai pusat penjualan kreneng. Jika perlu ada semacam perayaan atau festival kreneng. Setidaknya Festival Denpasar semua transaksinya dibungkus dengan kreneng, atau diperkenalkan kembali kreneng lewat hajatan budaya tersebut.
Kreneng di pasar-pasar di Jawa Tengah dijual kisaran 600-1000 rupiah. Setara dengan tas kresek tebal, tapi kreneng ini keren dan ramah lingkungan.
Menghidupkan kreneng sebagai sebagai pengganti kresek plastik bisa menjadi terobosan persoalan sampah plastik yang menjadi persoalan serius Denpasar dan Bali. (T)
Catatan Harian 15 Desember 2016
Catatan: Foto-foto kreneng dalam tulisan ini diambil dari berbagai sumber online, setidaknya memberikan gambaran bagaimana ‘wajah kreneng’, fungsi dan pemakaiannya secara tradisional, serta pemanfaatannya sebagai kemasan cantik cenderamata.
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...