Fatah Anshori# Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata

Fatah Anshori
by Fatah Anshori — November 13, 2016 in Puisi

Tatkala.co
  Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu bagi puisi-puisi. Beberapa hari yang lalu Kau lebih suka pada uang daripada kenangan akhirnya kau sadar dan melihat dirimu dicermin yang retak. "Diriku adalah sekarung kata-kata?", Katamu. Wajahmu menjadi pucat seperti salju yang turun di negeri jauh. Dan hatimu memanas seperti cuaca hari ini. Lamongan, 2016   Selembar Daun Terakhir Daun-daun di tubuhku mengering, dan jatuh satu persatu meski masih musim semi. Senja dan pagi tak pernah menengokku dari jendala. Atau menemaniku minum kopi dan menulis puisi: tentangmu. Kulit di tubuhku mengelupas seperti sebatang pohon di musim panas. Berdiri sendiri di tepi jalan yang rusak. Orang-orang menertawaiku, barangkali aku ini badut yang disewa anak-anak di pesta ulang tahun. Kulitku masih mengelupas, perih namun tidak berdarah. Kadang aku bersyukur Tuhan tidak memberiku setetespun air mata. Sehingga aku tidak pernah bisa menangisi setiap kabar duka yang datang bersama pagi di halaman depan surat kabar. Atau melihat kabarmu barusan di sebuah foto bersama orang asing. Aku yakin itu pilihanmu. Aku masih sebatang pohon di tepi jalan, yang merana ditingkahi musim dan dipaksa melepaskan. Selembar daun terakhir baru saja gugur, seiring fotomu bersanding dengan pria asing. Lalu aku mengerti kenapa luka dan ngilu di dada diciptakan. Lamongan, 2016   Sebuah Foto di Meja Tengah Tanaman yang merambat di pagar mengering. Bunga-bunganya layu. Warnanya pucat mirip penderita anemia. Gemericik air di malam hari, yang terdengar dari sungai tak bernama. Tiba-tiba sunyi. Kemana perginya? Burung-burung di sangkar kepalanya merunduk seakan mengheninkan cipta. Apakah ada obituari? Hari ini minggu, tidak cocok bagi kabar kematian duduk tertawa dan berlama lama. Bukankah begitu? Aku melangkah ke meja tengah, dan kulihat sebuah foto terpampang. Tubuhku menjadi lemas. Lamongan, 2016   Musim Gugur Pagar tua yang kusam dan sulur-sulur melati, mereka bergandengan tangan. Ratusan bahkan ribuan rambut jatuh di lantai tukang cukur bagai daun yang gugur. Kemudian aku termenung sambil melihat dua pohon palem di tepi jalan. Keduanya diam barangkali hening adalah bahasa ibu mereka. Tidak sengaja dua helai daun gugur tebujur di kaki pohon itu. Lalu aku teringat cinta yang gugur. daun yang gugur. Lalu, rambut yang gugur. Kemudian aku akan bertanya pada musim gugur. "Kenapa Tuhan menciptakanmu?" Jalanan, langit, tukang cukur, dua pohon palem, dan dua orang laki-laki yang sedang merokok didepanku. Sama sekali acuh, karena aku hanya bertanya di dalam hati. "Suka-suka Ku anak muda!", Barangkali begitu Tuhan menjawab pertanyaanku tadi. Lamongan, 2016   Bellinzona Rumput-rumput telah menguning, dan hujan seperti kalimat selamat tinggal tak pernah lagi terdengar kabar kedatangannya. Menghilang dan hanya menyisakan lengking-lengking kenangan. Lalu aku menatap tembok-tembok tua yang terjal berdiri di sepanjang jalan menuju kota tua di Bellinzona. Aku sempat ingin mencarimu kesana. Namun hujan yang datang di kotaku mengatakan kau tidak ada disana hanya ada rintih-rintih ngilu di tempat itu. Semuanya tidak lagi hijau disana begitu juga denganmu. kau telah memelihara lupa di sudut-sudut kepalamu. Dan aku adalah perihal asing di tubuhmu. Lamongan, 2016   Tuntutan :untuk Nafsiahku Perempuan-perempuan menuntut laki-laki untuk bercerita. "Kenapa engkau menaruh hati padaku?" Laki-laki itu tercekat, namun isi kepalanya berlarian bagai anak kecil yang melihat tukang bakso di sore hari. Kenapa aku mencintaimu? Barangkali karena kau adalah perempuan dan Aku, laki-laki yang hanya berkawan lampu kamar dan buku-buku cerita di malam hari. Karena itu aku mencintaimu. Lamongan, 2016
Tag: Puisi
Avatar

Fatah Anshori

Related Posts