Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
CINTA, ah, erat kaitannya dengan “kangen”. Kalau cinta dan kangen sudah bertemu maka banyak cerita terpatri dalam ingatan seorang penjalin cinta. Cinta dan kangen jadi punya hubungan sangat penting, apalagi bila dikaitkan dengan yang namanya LDR (Long Distence Reladibohonginsip) ha ha.
Di zaman sentuhan ini siapa yang tidak mengenal LDR? Nah LDR pula erat kaitannya dengan Stasiun Cinta. Apa itu Stasiun Cinta ? Marilah saya ceritakan tentang pohon beringin di Banjar Sayan Baleran, Mengwi, Badung. Itu, lho, lokasi pertigaan yang berdekatan dengan pabrik Coca-Cola di tepi Jalan Denpasar-Singaraja.
Dingin udara selalu menyebar dari pohon beringin besar itu. Pohon itu sebetulnya selalu menjadi saksi bisu sepasang kekasih bertemu atau berpisah, khususnya yang sedang menjalin cinta di Universitas Pendidikan Ganesha. Pohon beringin tersebut merupakan saksi bisu lambaian tangan dari sepasang kekasih yang berbeda jalur untuk pulang menuju rumah masing-masing.
Mungkin sudah ribuan pasangan yang pohon beringin lihat bertemu atau berpisah di pertigaan tersebut. Mulai dari pasangan yang sedang marajuk, yang sedang hangat-hangatnya menjalin cinta, maupun yang dilanda kasus LDR, semua terekam jelas oleh pohon beringin tua yang berdiri kokoh di simpang tiga jalan itu.
Semua yang berada dalam lingkar pohon itu akan menitip rindu dalam bagi yang LDR, di mana ketika sang lelaki mengantarkan pacarnya yang pertama kali pergi ke Singaraja. Maka akan diantar sampai di sana. Karena jalan dari sana menuju Singaraja hanya tinggal lurus atau menuruti jalan, hingga kelok-melok yang memusingkan kepala. Nah, dari sanalah tercipta stasiun cinta yang hingga kini masih berlaku di pertigaan di bawah pohon beringin tersebut.
Mungkin ada juga pasangan yang saling tunggu di sana, menunggu untuk berangkat bersama ke Singaraja. Menunggu di sana sangatlah mengasyikkan. Bisa duduk sambil mengobrol di rumpun pasar sebelah pohon beringin yang sepi. Karena pada siang hari itu tak terlihat seperti pasar. Melainkan terlihat seperti stasiun yang memperbolehkan setiap penunggunya untuk sekadar ngopi dan ngeteh menunggu pujaan hati datang.
Apalagi kalau pulangnya di siang hari, wah, angin akan membelai mesra di sana. Sangat romantis bukan, menunggu pasangan di bawah pohon beringin dikelilingi orang-orang yang membicarakan masalah pekerjaan ataupun hal-hal sepele di warung kopi.
Cinta memang seringkali membuat hal sesederhana itu menjadi sangat mengesankan. Kenapa harus saling tunggu menunggu di bawah pohon beringin? Mungkin jawabannya sudah bisa ketebak, hahaha. Ya tentu saja.
Belum Direstui
Yang pertama, mungkin karena belum direstui orang tua. Memang orang tua di rumah pasti akan wanti-wanti sekali untuk tak berpacaran lebih dulu semasih kita berada di bangku kuliah (terutama bagi kaum hawa). Apalagi kos, wah wah bahaya sekali. Orang tua akan sangat bangga bila anaknya kerja terlebih dahulu baru memperhitungkan cinta.
Nah, oleh sebab itulah muncul stasiun cinta entah itu di pohon bringin maupun di tempat lain, karena setiap pasangan memiliki stasiun cintanya masing-masing. Yang mereka anggap aman dan tanpa sepengetahuan orang tua ataupun sanak family.
Rumah Berjauhan
Yang kedua, karena rumah yang berjauhan, misalkan yang cowok dari Klungkung atau Gianyar dan yang cewek di Denpasar atau Tabanan. Agar tak bolak-balik maka haruslah mereka siapkan stasiun cinta. Agar lebih efisien maka adalah kesepakatan untuk bertemu di mana dan jam berapa. Agar tak saling tunggu mereka biasanya jalan bersamaan dan sampai di tempat tujuan secara bersamaan, saling menyapa terlebih dahulu, senyum, lirik mata, saling ejek maupun saling sindir, mungkin karena KANGEN.
Duhh…, inti percintaan memang rasa kangen, tak ada yang bisa mengalahkan hebatnya rasa kangen. Rasa yang menyebabkan tak enak makan, tak enak mandi, tak enak BAB, sampai tak enak yang enak-enak. Lalu karena kangenkah tercipta stasiun cinta? Ah pohon beringin terlalu cepat mengambil kesimpulan, masih ada banyak alasan yang lainnya.
Menciptakan Tempat Bersejarah
Yang ketiga, mungkin, mungkin saja karena mereka ingin menciptakan suatu tempat yang bersejarah bagi kisah percintaan mereka, yang bisa mereka kenang demi menjaga masa lalu. Demi menjaga rantaian kisah cinta yang mereka bangun. Maka mereka ciptakan sebuah tempat di mana mereka sering menunggu, bertengkar, dan hal-hal sepele lainnya.
Ya, kalau kisah cintanya bersemi abadi sampai mereka menuju pelaminan, ya, tempat itu akan mereka perkenalkan pada anak cucunya nanti, bahwa inilah stasiun cinta yang agung, yang mempertemukan bapak dan ibumu lalu bersama-sama menuju Singaraja demi melanjutkan pendidikan.
Tapi bagaimana mereka yang tak bahagia saat tua? Mungkin stasiun cinta akan menjadi kenangan yang sangat manis bila dilewati saat pulang, oknum yang tertimpa masalah tersebut akan senyum-senyum sendiri saat melewati stasiun cinta tersebut (sambil tertawa menangis) pedih, pedih sekali. Sabar yaa...
Romantisnya Berdua
Yang terakhir, pertanyaan yang masih berhubungan dengan stasiun cinta. Kenapa harus berjalan bersama ke Singaraja? Hemm bisa ditebak, bisa diterka. Sebenarnya bisa saja menempuh perjalanan sendiri ke Singaraja, tapi alangkah lebih romantisnya bila bisa bersama pujaan hati, apalagi sepanjang perjalanan Denpasar-Singaraja sangat banyak objek wisata yang dilewati.
Alangkah lucunya bila hanya seorang diri yang merasakan, indahnya pemandangan Bedugul, The Silas, Kubu Strawberry, Danau Tamblingan, Danau Buyan, Danau Beratan, nikmatnya bila ada pasangan, perjalanan yang harusnya hanya 2 jam saja, mungkin bisa jadi setengah hari bila sudah bersama pasangan. Indah bukan? Memang indah Denpasar-Singaraja.
Jadi yang sudah memiliki stasiun cinta masing-masing, jangan hanya dijadikan stasiun cinta semata, jadikan juga tempat bersejarah untuk hidup, hidup percintaan yang tak habis-habis bila dibicarakan.
Penulis memang sedikit BAPER bila menulis hal-hal yang seperti ini, harap maklum (ini semua berdasarkan wawancara dan pengalaman penulis sendiri). He he he… (T)
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...