Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
MENILIK perkembangannya, bahasa Using Banyuwangi mengalami periode yang sangat mengkhawatirkan, yaitu apa yang disebut sebagai “Bunuh Diri Bahasa”. Pakar bahasa Jean Aitchison (2001), menyebut gejala Language suicide ini dalam fenomena yang berkembang di komunitas yang menggunakan dua bahasa atau lebih.
Kalau ada dua bahasa yang mirip, yang satu dianggap kurang bergengsi, kemudian meminjam kosakata, konstruksi dan ucapan dari bahasa lainnya yang secara sosial lebih diterima. Dalam proses jangka panjang, akhirnya bahasa tersebut akan diserap secara menyeluruh.
Pengalaman sebagai penyelenggara lomba mengarang berbahasa Using dalam empat tahun terakhir ini, diadakan oleh Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB), memperlihatkan kecenderungan Bahasa Using mengalami benturan itu. Sikap masyarakat terhadap bahasanya sendiri lah yang membuat lambat laun Bahasa Using mengalami kemunduran.
Sebagian orang di Banyuwangi, menganggap bahwa Bahasa Using kedudukannya lebih rendah daripada Bahasa Jawa, hanya karena bahasa Jawa mempunyai krama dan krama inggil, yang membedakan pembicara dari kasta sosialnya.
Seperti akar bahasanya, yaitu bahasa Kawi, bahasa Using tidak mengenal unggah-ungguh berdasar perbedaan kasta sosial seperti bahasa Jawa. Tetapi justru karena itu, oleh sebagian besar pendatang Jawa, bahasa Using dianggap tidak bermartabat. Dengan kuatnya pengaruh Jawa, generasi Using, apalagi yang berasal dari keluarga Jawa, memandang bahasa ini kurang cocok untuk berinteraksi sosial.
Dalam lingkungan pergaulan sekarang, generasi tersebut juga lebih diajarkan berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa Inggris yang lebih banyak ditemui dalam pergaulan.
Bahkan seorang guru Bahasa Using dalam sebuah seminar pernah mengatakan dia tidak akan mengajari anaknya Bahasa Using karena seorang muridnya mengatakan: “Pak Guru, cangkeme ana upane” (Pak Guru, mulutmu ada nasinya). Penggunaan kata “cangkem” dalam bahasa Using adalah hal yang lumrah. Sama halnya beribu-ribu kata lainnya karena dalam bahasa Using tidak dikenal ‘bahasa alusnya’.
Sementara dalam bahasa Jawa, seorang murid harus memilih kata dalam kategori krama atau krama inggil untuk gurunya. Kata yang tidak dikenal oleh anak-anak Using.
Guru bahasa Using lainnya, yang pindah dari daerah berbahasa Using Rogojampi ke kota, kasihan melihat anaknya yang minder karena tidak bisa berbahasa Jawa dengan teman-teman sepermainannya. Mau tidak mau ia mengajari anaknya berbahasa Jawa dan meninggalkan bahasa Using.
Seringkali dalam cerita atau karangan, muncul kata-kata berbahasa Jawa dari para peserta. Memang tidak bisa dipungkiri kalau sebagian peserta mengarang Bahasa Using ini adalah anak-anak yang berasal dari keluarga keturunan Jawa, Madura atau etnis lain yang memang banyak di Banyuwangi.
Muncullah kata-kata yang sebenarnya sudah ada dalam bahasa Using, tetapi karena ketidaktahuan, kemalasan membuka kamus, ketidakacuhan, meminggirkan kata-kata bahasa Using. Misalnya, sudah ada kata Bahasa Using (kolom sebelah kiri) mereka menggunakan kata-kata Jawa (yang ada di kolom tengah):
Bahasa Using Bahasa Jawa Indonesia
| Aron | Waras | Sembuh |
| Bangur | Aluwung | Lebih baik |
| Cumpu | Ndilalah | Ternyata (tidak seperti yang diharap) |
| Dhogolan | Ote-ote | Bertelanjang dada |
| Elom | Luwe | Lapar |
| Getap | Wedian | Penakut |
| Iyane | Dheweke | Dia |
| Jajang | Pring | Bambu |
| Kaples | Melempem | melempem |
| Lumur | Gelas | Gelas |
| Masiya | Senajan | Meskipun |
| Nunggang | Numpak | Naik kendaraan |
| Paceke | Mesthi | Setiap kali |
| Rika/ndika | Sampeyan/panjenengan | Anda |
| Saben | Angger | setiap kali |
| Tempong | Tapuk | Tempeleng |
| Uput-uput | Leles | Memungut |
| Wera | Amba | Lebar |
Apalagi dengan tidak banyaknya literatur bahasa tulis, Bahasa Using menghadapi ancaman kematian bahasa itu sendiri.
“When a language dies, it is not because a community has forgotten how to speak, but because another language has gradually ousted the old one as the dominant language for political and social reasons. Typically, a younger generation will learn an ‘old’ language from their parents as a mother tongue, but will be exposed from a young age to another more fashionable and socially useful language at school.” (Aitchison, 2001:235).
(Kematian sebuah bahasa bukan karena komunitas tersebut lupa cara bertutur, tetapi karena bahasa lain secara perlahan menggantikannya sebagai bahasa yang lebih dominan secara politis maupun sosial. Biasanya, generasi mudanya belajar ‘bahasa kuna’ dari orang tua mereka sebagai bahasa ibu, lantas berhadapan dengan bahasa lain yang lebih kekinian dan secara sosial lebih bermanfaat di sekolah.)
Yang membuat situasinya makin parah adalah: bahasa Using tidak mempunyai tradisi tulis yang kuat. Layaknya karya tradisional lainnya, sastra using berkembang sebagai sastra lisan, dalam bentuk lagu-lagu rakyat, pantun dan lain-lain.
Keadaan itu menimbulkan kegerahan beberapa orang diaspora Banyuwangi maupun yang tinggal di Banyuwangi. Sekumpulan orang yang mempunyai visi sama untuk meningkatkan budaya baca tulis bahasa Using khususnya dan ikut menjaga budaya secara umum. Budaya membaca, harus juga didukung dengan tersedianya buku-buku. Munculnya buku harus didukung oleh penulisan, jadi terjaga adanya sebuah kegiatan literasi yang berkelanjutan. Kelompok komunitas ini bergerak dengan menggunakan pendanaan mandiri tanpa bantuan pemerintah.
Buku-buku yang diterbitkan ini sebagian dijual bebas di toko buku dan sebagian lagi dihibahkan ke sekolah-sekolah dan rumah baca untuk menggairahkan karya tulis berbahasa Using. Lomba mengarang tahunan itu sekarang sudah memasuki tahun yang keempat. Buku kumpulan hasil lombanya yang diberi judul Kembang Ronce sudah terbit tiga judul di tahun 2013-2014-2015. Gairah menulis sebenarnya sudah cukup besar karena setiap tahun rata-rata ada sekitar 50 naskah yang masuk ke panitia.
Hanya dengan intensitas dan kerjasama penutur asli maupun pendatang untuk tetap menggunakan bahasa Using, niscaya ancaman menghilangnya bahasa Using dapat diredam sedikit demi sedikit. Dan perlu kerjasama semua pihak: pemda, DPRD, guru, dan terutama penutur yang terus menggunakan bahasa Using baik lisan dan tulisan. (T)
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...