Angga Wijaya# Di Kamar Blues Masih Mengalun

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — September 24, 2016 in Puisi

Tatkala.co
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita tak pernah percaya cinta Tak percaya, sebab cinta bikin sakit saja seperti tuhan yang Rendra tulis dengan merdu dan syahdu penuh madu Tuhan sudah mati! Tuhan kita kini adalah tuhan dalam musik blues tercipta dari kemiskinan dan luka kaum papa kaum hina Bunda Teresa ibu mereka potretnya tergantung di hati mereka Aku memahami luka itu Kau memahami luka itu Kita memahami luka itu Luka jualah yang membuat kita bertemu Disini Di kamar ini.   PASAR BADUNG Berjalan di kota dini hari aku melihat terang penda-pendar cahaya pasar cahaya Ibu tua memanggul kenangan teringat Dia di via dolorosa wajahnya berisikan debu juga lelah dan amarah Aku menyaksikan itu aku melihat semua Ibu tua, pasar, kenangan, lelah, amarah.   KOTA TANPA PURNAMA kenangan itu datang lagi mengajak kita mengenangnya bukan hitam bukan putih hanya kelam kelam yang tak sungguh kelam telah jauh setapak kita lewati aku tak memungut sesuatu pun sebab aku tahu itu akan lepas genggamanku tak erat malam ini tak ada purnama mendung telah menelannya seperti malam kemarin hujan terus membasahi kota kota tanpa purnama.   RADIO MERAH DARI IBU Aku ingin mengenal dunia, berkata aku kepada ibu pada suatu pagi. Ibu tak menjawab, ia hanya menyuruhku mandi kemudian mengantarku ke toko kelontong di kota membelikanku radio kecil berwarna merah. Aku gembira dengan mainan baruku. Dari dalam radio aku mendengar nama tuhan, terjang sepatu, rentetan tembakan kematian, sandiwara manusia.    
Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts
Esai

Memang Pasar Malam

BY Angga Wijaya Mei 30, 2026

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar malam yang saya datangi berada di Desa Padonan, Kelur...

Read More
Liputan Khusus

Hikayat Tuak

BY Jaswanto Mei 30, 2026

KAKEK tua itu memanjat pohon lontar—yang tinggi—sesantai menaiki anak tangga. Meski sudah berumur, tangannya masih kuat mencengkeram, sedang sedikit pun kakinya tak gemetar, meski...

Read More