Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Yang lebih menarik, pada saat KKN mahasiswa IHDN juga terbiasa nguopin (membantu) warga yang sedang menggelar upacara adat. Selama KKN, mahasiswa benar-benar belajar menjadi warga desa adat yang baik, rajin, dan suka belajar dari para orang tua.
Tahun 2016 ini mahasiswa IHDN melaksanakan KKN di desa-desa di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Selain ikut ngayah di desa-desa di wilayah Badung bagian utara itu, mahasiswa juga banyak belajar tentang sarana upacara dari warga setempat. Selain itu, mahasiswa secara tidak langsung juga belajar tentang tradisi, dresta, dan kebiasaan adat, yang di beberapa hal tertentu berbeda dengan desa-desa lain di Bali.
Saat odalan di pura, mahasiswa tak kesulitan ketika ngayah ngelilit sate, membuat penjor, dan mejejaitan. Semua mahasiswa cowok ternyata sudah terbiasa dan cukup pasih melakukan pekerjaan ngelilit sate, apalagi membuat penjor. Yang cewek juga tak perlu diragukan kemampuannya mejejaitan.
Namun ketika membantu warga membuat ulam caru, hampir semua mahasiswa klingang-klingeng karena tak banyak yang paham secara detil tentang ulam caru. Maka di situlah kesempatan mahasiswa belajar kepada warga desa. Jadi, KKN bukan ajang untuk “mengajari” warga desa, melainkan juga ajang mahasiswa untuk “belajar” dari warga desa.
Pada saat itu nguopin di rumah warga yang menggelar upacara tiga bulanan anaknya, mahasiswa juga mendapatkan pengetahuan tentang tradisi, dresta dan kebiasaan warga adat yang berbeda-beda. Misalnya di satu desa di Kecamatan Petang, upacara tiga bulanan anak pertama sangat meriah dan memakai banten berskala besar. Untuk anak kedua dan seterusnya, upacara tiga bulanannya tak sebesar anak pertama.
Dengan program-program yang terasa tradisional seperti itu, jangan membayangkan mahasiswa IHD yang KKN sudah mirip seperti kumpulan orang-orang zaman dulu yang jauh dari peradaban masa kini. Tidak seperti itu. Mahasiswa IHDN juga mahasiswa yang hidup pada zaman modern. Di waktu senggang mereka juga main gadget, bercanda dan bergembira bersama.
Mahasiswa IHDN juga mengalami indahnya kebersamaan dengan teman-teman satu kelompok, canda tawa, yang serasa tak pernah berakhir, dan akan jadi kenangan selamanya. Di pos KKN, mahasiswa seperti keluarga kecil.
Kebiasaan-kebiasaan umum juga terjadi. Mahasiswa cewek bagun pagi-pagi, lalu ke pasar membeli bahan masakan dan langsung memasak. Yang cowok seperti biasa juga, bangun agak siang, lalu berteriak dengan nada bercanda. “Kopi sik, Luh!”
Setelah ngopi, giliran mahasiswa cowok mencari air minum di beji atau di pancuran desa. Sudah banar-benar seperti keadaan rumah tangga. Setiap permasalahan di selesaikan dengan jalan yang baik, agar tidak ada perpecahan di dalam kelompok.
Mahsiswa cowok juga punya permainan untuk menghilangkan jenuh. Pada malam hari jika mau tidur di kamar cowok kita memiliki tradisi dalam mematikan lampu dengan permainan "ompimpa".
Siapa yang kalah dia yang mematikan lampu, dan tentu saja harus tidur paling belakang. Jika ada yang tidur duluan, maka dia akan diganggu agar mau bangun. Pengalaman lain, sama seperti mahasiswa lain, misalnya perebutan toilet di pagi dan sore.
Soal cinta lokasi (cinlok)? Ah, itu bukan jadi topik penting. Tapi mungkin saja ada yang suka sama suka, hanya saja hal itu tidak diperlihatkan di depan teman-teman, dan juga tak menjadi gosip yang menarik. (T)
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...